Hai blogger, pagi yang sepi. Haha.
Kali ini Aku mau bahas tentang SBMPTN... Hallo as you know itu adalah singkatan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri.
Semua itu bermula dari...
(27/05) "Pengumuman SNMPTN dimajukkan menjadi hari ini pukul 16.00 WIB."
Oke, kapan pun pengumumannya toh hasilnya akan tetap sama, pikirku.
Siang tadi aku baru saja membeli pulsa internet, tetapi sejak siang pula aku terus-menerus gagal untuk mendaftar paket. Pukul 16.00 WIB pun tiba, tiba-tiba banyak pesan singkat menanyakan kelulusan SNMPTN, aku belum sedikitpun melihatnya, kubalas satu persatu pesan singkat itu, "Ayolah teh, kirimin nomor pendaftaran sama tanggal lahir. Nanti Sherly yang buka," kata adik kelasku. Tapi, siapa juga yang ingin menyerahkan sesuatu yang sangat ditunggu itu dibuka lebih dulu oleh orang lain? Aku pun tak memberikannya. Beberapa jam berlalu, sudah banyak kabar duka maupun gembira tentang hal itu dari teman-temanku. Aku masih was-was. Akhirnya kuputuskan untuk membukanya lewat modem koneksi bluetooth handphone, dan... wosh!
Lalu setelah itu, apa yang aku rasakan? >> BIASA SAJA! Mungkin karena sudah terlalu sering gagal.
Kenyataan itu kini cukup menyesakkan dada, setelah mendengar kabar temanku diterima di fakultas pilihan pertamaku itu, Fakultas Teknik Mesin dan Dhirgantara, Institut Teknologi Bandung. Hatiku hancur, ya... hancur. Meski tetap belum begitu terasa sakitnya.
Keesokan harinya, keesokan harinya lagi. Perbedaan itu baru mulai terasa. Disaat harus melakukan pendaftaran SBMPTN, semuanya terasa sulit, pembayaran melalui ATM selalu saja error, jangankan ATM orang-orang yang antri berjam-jam di Teller pun masih saja belum dapat membayar SBMPTN.
Setelah beberapa hari terus menerus mencoba akhirnya pembayaran pun telah selesai dilakukan.
Aku memutuskan untuk melakukan pendaftaran di sekolah menggunakan fasilitas wifi yang disediakan sekolah. Aku bingung, aku sungguh bingung harus memilih jurusan apa, berkali-kali ku bertanya kepada temanku, tetapi teman-temanku malah mengajak bercanda. Akhirnya, apa yang terjadi? #@$%^)(*#%#@! PENDAFTARANKU ERROR!
Aku kesal, aku bingung, aku marah. Air mataku tak kuasa begitu saja keluar dari mata yang jarang mengeluarkan air mata ini. Kebetulan di dalam kelas hanya ada Aku dan Indah (adik kelasku ~X.2). Ia bingung melihatku menangis seperti itu, lantas Ia keluar dan mencari Biran dan Dimas untuk mempertanggungjawabkannya, mereka semua tidak merasa bersalah. Tapi mereka pun ikut bingung, Biran tak henti-hentinya meminta maaf dan menagih urunan untuk mengganti pendaftaranku, Dimas mencari cara lain dan berusaha untuk menelepon panitia, sedangkan Aku? Aku pergi ke mushola untuk melaksanakan shalat Ashar sambil berlinangan air mata.
Setelah aku selesai melaksanakan shalat Ashar.
"Riri, tenang dulu, jangan nangis! Kata panitianya bisa kok, gak apa-apa, memang udah login tapi belum diisi formulirnya" aku hanya diam seribu bahasa.
Aku kembali ke kelas dan merapikan laptopku lalu kemudian pergi dengan sepeda yang selalu menemaniku ke sekolah setiap hari dengan ugal-ugalan, karena kesal.
Ditengah jalan, aku berhenti untuk membeli pulsa internet, dan melakukan pendaftaran di rumah.
Akhirnya pendaftaranpun dapat dilakukan.
Keesokan harinya, aku belajar, belajar, dan belajar. Otakku rasanya ingin meledak. Pusing ya pusing sekali. Aku memutuskan ke sekolah untuk mencari teman belajar bersama.
Sesampainya di sekolah bukannya belajar, malah ternyata hanya menambah tekanan hati, sakit rasanya melihat teman-teman bahagia, aneh memang, tetapi manusiawi. Saat orang-orang membicarakan kosan, kuliah nanti gimana, kita masih harus berpikir, diterima gak yah?
Beberapa hari itu pun aku menjadi melankolis.
Pada hari jumat tanggal 7 Juni, aku bersama keluargaku pergi mengantarkan bibiku yang baru saja melahirkan sesar ke Bekasi untuk melaksanakan perawatan. Di sana aku bertemu saudaraku yang seangkatan denganku, senasib juga, tetapi aku sungguh muak dan lelah rasanya, dihujani pertanyaan mengenai SNMPTN, aku menahan tangis.
Sore harinya saat keluargaku akan pulang kembali ke Bogor, aku diminta menginap untuk menemani bibiku. "Bawa buku gak?" tanya ibuku. "Bawa, semuanya lengkap." kataku. Yasudah akhirnya aku diijinkan untuk menginap.
Bukannya dapat belajar dengan tenang, aku malah tak dapat tidur seharian karena menjaga bayi mungil yang tak berdosa. Lucu memang, padahal aku kurang suka terhadap anak-anak. Saat semua tertidur lelap, aku belajar, tapi aku lelah, aku pun ketiduran.
Hal itu terus berlanjut selama 3 hari hingga akhirnya aku dapat pulang pada hari selasa dan kembali dapat tenang belajar.
Setelah hari itu, aku semakin takut, takut yang luar biasa. Apalagi saat aku memberikan rapotku kepada ibu, "Rapot sekarang gak berguna yah, percuma nilai besar juga, gak kepake." hatiku hancur.
Aku kembali menangis.
Kemarin, tepatnya hari Sabtu, tanggal 15 Juni 2013, aku mengikuti Try Out SBMPTN yang diadakan Katalis IPB, sebelum Ujian Nasional pun aku sempat mengikuti Try Out Ganeshout ITB, Try Out Grafity UI, Try Out TOBI IPB-UNPAD.
Tapi itu memang tryout terakhirku, saat mengerjakan soal TPA memang lancar, eh saat mulai bagian soal TKD, otakku buyar, hatiku was-was, soalnya luar biasa tak terduga, pusing! Namun, saat soal kemampuan IPA aku kembali normal, tak sesulit TKD, hatiku pun senang. (hehe). Untuk hasilnya belum aku lihat, padahal sudah ada, tetapi nanti sajalah.
Kini, esok lusa menanti. Kucoba hilangkan segenap keraguan dan ketakutan yang ada di dada. Ku hela setiap tangis yang tak kuasa kumenahannya. Kucoba sejenak melupakan hal-hal yang telah terjadi. Kembali kucoba untuk bermimpi... dan mewujudkannya.
Sekolah Farmasi ITB, semoga rahmat-Nya senantiasa ada padaku. Tak lelah kuberharap. Rasanya ini merupakan perjuangan besar, meski tak sebesar Perang Badar atau Perang Uhud. Tapi aku benar-benar sedang bertarung dengan hatiku sendiri. Tentang keyakinan diri.
Tadi baru saja aku menghadiri perpisahan SDIT di Kota Bogor, Aku menangis, ya sungguh tak kuasa kumenitikan air mata, aneh memang, padahal pada saat perpisahanku saja aku tak pernah menangis. Tapi, ya sekali lagi aku memang menangis. Bukan karena apa-apa, tetapi saat melihat satu-persatu murid-murid dipanggil, biodatanya tertera dilayar, dan saat kulihat bagian cita-cita, aku sedih. Aku memang ingin sekali menjadi Engineer, tapi apalah mau dikata, sekarang yang kumau hanyalah restu orang tua, tak ada lagi kata egois di jiwa, menjadi seorang Pharmaceutist juga merupakan tanggung jawab yang berat.
Kini aku memiliki mimpi baru. Semoga semua ini dapat menjadi nyata. Allahumma Aamiin.
Semangat buat semua teman-temanku yang besok lusa akan SBMPTN, semoga Allah merahmati kita semua, Aamiin.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca ceritaku. Semoga ada kabar gembira di tanggal 12 Juli nanti yah, tunggu postingan berikutnya! :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar